Rabu, 28 Desember 2011

MAKALAH STROKE

STROKE
PENGERTIAN STROKE

Stroke atau Cerebral Vaculer Accident (CVA) adalah gangguan dalam sirkulasi intracerebral yang berkaitan insuffiency, trombosit, emboli, atau perdarahan.
 Penyakit serebrovaskuler/stroke menunjukan adanya beberapa kelainan otak baik secara fungsional maupun struktural yang disebabkan oleh keadaan patologis dari pembuluh darah otak. Patologis ini menyebabkan perdarahan dari sebuah robekan yang terjadi pada dinding pembuluh atau kerusakan sirkulasi serebral oleh oklusi parsial atau seluruh lumen pembuluh darah dengan pengaruh yang bersifat sementara atau permanen.













Etiologi Stroke
Tanda dan gejala Stroke pada luas dan lokasi yang di pengaruhinya arteri serebral yang tersumbat oleh trombus atau embolus dapat memperlihatkan tanda dan gejala sebagai berikut :
1.      Sindroma Arteri Serebral Media
a.       Hemiplegia (flaccid pada muka, lengan dan tungkai pada sisi kontralateral).
b.      Gangguan sensorik (pada daerah yang sama sebagai hemiplegia)
c.       Aphasia (aphasia global jika hemisfere dominan yang di pengaruhi)
d.      Homonymous hemianopsia
e.       Binggung sampai dengan koma (makin buruk tingkat kesadaran)
f.        Ketidakmampuan menggerakan mata terhadap sisi yang paralisis.
g.       Denial paralisis
h.      Kemungkinan pernapasan cheynestokes
i.         Sakit kepala
j.         Paresis vasomotor

2.      Sindroma Arteri Serebral Anterior
a.       Paralisis dari telapak kaki dan tungkai
b.      Gangguan dalam berjalan
c.       Paresis kontralateral dari lengan
d.      Hilang fungsi sensorik secara berlebihan pada ibu jari kaki , telapak kaki dan tungkai.
e.       Gangguan mental
f.        Inkontinen urin (biasanya berlangsung beberapa minggu)
g.       Abulia (ketidakmampuan melakukan kegiatan , pergerakan yang terkontrol atau membuat keputusan)

3.      Srindroma Arteri Serebral Posterior
·         Daerah perifer :
a.       Homonymous hemianopsia
b.      Beberapa kelainan penglihatan seperti : buta warna, kurangdalam persepsi, kegagalan melihat objek pada lokasi yang tidak sentral, halusinasi penglihatan.
c.       Berkuraangnya daya ingat
d.      Berkeringat

·         Daerah Pusat :
a.       Jika talamus yang di pengaruhi , maka ada sensorik yang hilang dari seluruh modalitas, nyeri spontan, internasional tremor dan hemiparesis ringan.
b.      Jika serebral penducle yang di pengaruhi akan ada sindrom weber’s (kelumpuhan saraf okulomotorik denagn kontralateral hemiplegia).
c.       Jika batang otak di pengaruhi conjungate gaze, nistagmus dan ketidak normalan pupil dengan gejala gejala yang lain berupa tremor postural, ataksia.

4.      Sindroma Arteri Karotis Internal
a.       Berulangnya seranagn kebutaan atau penglihatan kabur pada ipsilateral mata
b.      Parastesia dan kelemahan lengan kontralateral, wajah dan tungkai.
c.       Hemiplegia dengan hilangnya sensorik secara komplit dan hemianopsia.
d.      Kemungkinan atropi saraf optik pada mata ipsilateral
e.       Disfasia intermittent

5.      Sindroma Arteri Serebral Inferior Posterior
a.       Disfagia dan disarthria
b.      Hilangnya rasa nyeri dan temperatur pada bagian sisi ipsilateral dari wajah
c.       Hilangnya rasa nyeri dan temperatur pada sisi tuguh dan tungkai
d.      Nistagmus horizontal
e.       Sindroma horner’s ipsilateral
f.        Tanda tanda serebellar (ataksia dan vertigo)

6.      Sindroma Arteri Serebral Inferior Anterior
ü  Sisi Ipsilateral
a.       Tuli dan tinnitus
b.      Paralisis wajah
c.       Hilangnya sensasi pada wajah
d.      Syndrome horners’s
e.       Tanda tanda serebellar (ataksia dan nistagmus)
ü  Sisi Kontralateral
a.       Gangguan sensasi nyeri dan temperatur pada tubuh dan tungkai
b.      Nistagmus horizontal .














Manifestasi Klinis Stroke

Manifestasi klinis yang timbul tergantung dari jenis stroke
1.      Gejala klinispada stroke hemoragik berupa  :
a.       Defisit neurologis mendadak , didahului gejala prodromal yang terjadi pada saat istirahat atau bangun pagi.
b.      Kadang tidak terjadi penurunan kesadaran
c.       Terjadi terutama pada usia >50 tahun
d.      Gejala neurologis yang timbul bergantung pada berat ringannya gangguan pembuluh darah dan lokasinya

2.      Gejala klinis pada stroke  akut berupa
a.       Kelumpuhan wajah atau anggota badan ( biasanya hemiparesis ) yang timbul mendadak
b.      Gangguan sensibilitas pada satu anggota badan (gangguan hemisensorik )
c.       Perubahan mendadak pada status mental ( konfusi, delirium , latergi, stupor, atau koma )
d.      Afasia  ( tidak lancar atau tidak dapat bicara )
e.       Disatria ( bicara pelo atau cadel )
f.        Ataksia ( tungkai atau anggota badan tidak tepat pada sasaran )
g.       Vertigo ( mual dan muntah atau nyeri kepala )






Klasifikasi Stroke

a.       Stroke Hemoragik
Merupakan perdarahan serebral dan mungkin perdarahan subaraknoid. Di sebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak pada area otak tertentu. Biasanya kejadiannya saat melakukan aktivitas atau saat aktif, namun bias juga terjadi saat istirahat. Kesadaran klien umumnya menurun. Perdarahan otak di bagi dua yaitu :
1)     Perdarahan intraserebral, pecahnya pembuluh darah (mikroaneurisma) terutama karena hipertensi mengakibatkan darah masuk kedalam jaringan otak, membentuk massa yang menekan jaringan otak, dan menimbulkan edema otak. Peningkatan TIK yang terjadi cepat dapat mengakibatkan kematian mendadak karena herniasi otak. Perdarahan intraserebral yang di sebabkan karena hipertensi sering di jumpai di daerah putamen,talamus,pons dan serebelum.
2)     Perdarahan subaraknoid. Perdarahan ini berasal dari pecahnya aneurisma berry atsu AVM . aneurisma yang pecah ini berasal dari pembuluh darah sirkulasi willisi dan cabang-cabangnya yang terdapat di luar parenkim otak. Pecahnya arteri dan keluarnya ke ruang subarknoid menyebabkan TIK meningkat mendadak , meregangnya struktur peka nyeri dan vasospasme pembuluh darah serebral yang berakibat disfungsi otak global (sakit kepala, penurunan kesadaran) maupun fokal (hemiprase , gangguan hemi sensorik, afasia dan lain-lain). Pecahnya arteri dan keluarnya darah ke ruang subaraknoid mengakibatkan terjadinya peningkatan TIK yang mendadak, meregangnya struktur peka nyeri, sehingga tibul nyeri kepala hebat.sering pula di jumpai kaku kuduk dan tanda-tanda rangsangan selaput otak lainnya. Peningkatan TIK yang mendadak juga mengakibatkan perdarahan subhialoid pada retina dan penuurunan kesadaran. Perdarahan subaraknoid dapat mengakibatkan vasospasme pembuluh darah serebral. Vasospasme ini dapat mengakibatkan disfungsi otak global (sakit kepala, penurunan kesadaran) maupun fokal (hemiparese, gangguan hemisensorik, afasia, dan lain-lain)


b.      Stroke NonHemoragik
Dapat berupa iskemik atau emboli dan trombosis serebral, biasanya terjadi saat setelah lama beristirahat, baru bangun tidur atau di pagi hari. Tidak terjadi perdarahan namun terjadi iskemik yang menimbulkan hipoksia dan slanjutnya dapat timbul edema sekunder. Kesadaran umumnya baik.
1.      Menurut perjalanan penyakitnya
a.       TIA (transient ischemic attoks)
Gangguan neurologis lokal yang terjadi selama beberapa menit sampai jam saja. Gejala yang timbul akan hilang dengan spontan dan sempurna dalam waktu kurang dari 24 jam.
b.      RIND (reversible iskemik neurologik defisit)
Terjadi lebih lama dari pada TIA , gejala hilang < 24 jam tetapi tidak lebih dari 1 minggu.
c.       Progesif stroke inevaluation
Perkembangan stroke perlahan-lahan sampai akut munculnya gejala makin lama semakin buruk proses pregresif berupa jam sampai beberapa hari 
d.      Stroke komplet (stroke lengkap)
Gangguan neurologis yang timbul sudah menetap atau permanen. Sesuai dengan istilahnya stroke komplet dapat di awali oleh serangan TIA berulang.






Patofisiologi Stroke
NON HEMORAGIK

Fragmen
 
Stroke
 
 




















                                                                                                                                                                       


                                                                                                                                                                           
HEMORAGIK
Stroke
 
 






















PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
SISTEM PERNAFASAN
Pemeriksaan diagnostic spesifik dapat membantu dalam pengkajian neurologi, beberapa diantaranya sangat sederhana dan tidak menimbulkan rasa sakit, namun pemeriksaan yang lain ada yang sangat komplek, tidak nyaman, kadang-kadang menimbulkan rasa sakit dan kemungkinan mengancam kehidupan. Untuk itu perlu sekali dilakukan observasi secara cermat, tindakan yang tepat dan mencatat komplikasi yang mungkin dapat terjadi.
Secara umum tanggung jawab keperawatan dalam pemeriksaan diagnostic meliputi :
1.      Memberikan pendidikan kesehatan kepada klien, dan keluarga tentang pemeriksaan diagnostic yang akan dilakukan.
2.      Mempersiapkan fisik klien
3.      Memperoleh izin tertulis untuk pemeriksaan diagnostic invasive
4.      Mempersiapkan alat-alat dan membantu dalam melakukan pemeriksaan di ruangan, misalnya dalam pemeriksaan fungsi lumbal dan pemeriksaan kalori
5.      Mempertahankan secara akurat pencatatan mengenai persiapan klien, pemeriksaan secara lengkap,tindakan setelah pemeriksaan dan respon klien
6.      Menemani klien yang memerlukan perawatan khusus untuk pemeriksaan di bagian lain, seperti : klien dengan traksi, tetapi oksigen dan pembatasan posisi.
7.      Membawa alat-alat perawatan yang diperlukan, seperti : oksigen, suction jika tidak tersedia di tempat pemeriksaan
8.      Melakukan tindakan keperawatan mandiri untuk mencegah akibat buruk setelah pemeriksaan dan meningkatkan rasa nyaman klien.
Pada bab ini akan dibahas pemeriksaan diagnostic yang meliputi : Radiografi , scan angiografi, pemeriksan aliran darah, serebral, gungsi lumbal,pemeriksaan cairan sebros pinal, mielografi,pneumoencephalopi, elektroensefalografi dan pemeriksaan waktu hantaran saraf, elektronistagmografi dan pemantauan tekanan intra karnial.
1.  RADIOGRAFI
Pemeriksaan Radigrafi yang dilakukan terhadap klien dengan gangguan neurologi, meliputi :
A.     Rontgen Tengkorak Kepala
Rontgen tengkorak kepala adalah pemeriksaan yang umum dilakukan.
Tujuan
Pemeriksaan rontgen tengkorak kepala digunakan untuk mendiagnosa :
1)     Fraktur tengkorak kepala
2)     Space occupying lesion (SOL) yang menyebabkan penggeseran kelenjar pineal
3)     Kalsium yang menutupi tumor otak
4)     Ketidaknormalan faskularisasi
5)     Pengikisan tulang tengkorak atau Sella tursika yang disebabkan oleh tekanan SOL
Persiapan Klien
Pendidikan Kesehatan. Memberikan informasi kepada klien bahwa klien akan dibawa ke bagian Radiologi dengan menggunakan kereta dorong atau kursi roda. Pemeriksaan akan dilakukan oleh petugas Radiologi. Tidak terasa nyeri yang berkaitan dengan pemeriksaan yang akan dilakukan dengan posisi pengambilan  X – ray films antreroposterior dan lateral. Pada keadaan infeksi sinus, fraktur wajah dan trauma orbita mata biasanya pengambilan X-ray fims dilakukan melalui posisi water view. Pada keadaan fraktur oksifital posisi pengambilan X-ray films adalah towne’s view.
Pemeriksaan
Klien diatur dalam posisi datar pada meja X-ray dan dianjurkan agar tetap  berbaring.
Setelah pemeriksaan
Tidak ada tindakan yang spesifik




B.     Rontgen Spinal
Tujuan
Rontgen spinal diambil pada klien yang memperlihatkan adanya trauma pada vertebra, keluhan nyeri pinggang dibelakang atau adanya deficit motorik dan sensorik pada ekstremitas.
Persiapan klien
Pendidikan kesehatan. Klien diberi informasi bahwa dia akan di baea ke bagian Radiologi dengan menggunakan kereta dorong dan dibaringkan dalam posisi datar pada meja X-ray. Beberapa X-ray films akan diambil oleh petugas Radiologi.
Catatan : bila disertai dengan traksi serfikal,maka mesin X-ray fortable dapat digunakan atau klien dapat dibawa dengan tempat tidurnya dan didampingi oleh perawat. Asuhan keperawatan dapat diberikan untuk mempertahankan fraksi dan untuk mencegah trauma yang disebabkan karena sentakan atau eprgarakan melintir selama transportasi dan tindakan X-ray.
Fisik. Tidak ada persiapan fisik
Persetujuan.Umumnya tidak diperlukan.
Pemeriksaan
Klien diletakkan dalam posisi datar dan tetap berada diatas meja X-ray sampai film diambil.
Tindakan setelah pemeriksaan
Tidak ada tindakan yang spesifik setelah pemeriksaan.

C.   SCAN
a.    Computer Axial Tomography (CAT)
Sejak tahun 1970 CAT memperlihatkan peningkatan keakuratan dalam mendiagnosa disfungsi otak.Scanning CAT adalah pemeriksaan yang memiliki resiko rendah, di mana gambaran memperlihatkan potongan menyilang dari bagian otak dan tengkorak kepala yang dibuat berbagai sudut.Densitas yang bervariasi dari jaringan di foto, dicatat dan direkam dalam computer. Alat ini digunakan untuk menvisualisasi organ lain baik otak dan tengkorak. Informasi spesifik dapat diperoleh tanpa traumatic pada pemeriksaannya. Ada beberapa pembatasan untuk kllien yang dilakukan pemeriksaan CAT scanner yaitu :
·      Berat Badan. Klien harus dengan berat badab dibawah 290 pond sebab seseorang diatas berat badan tersebut tidak dapat diterima oleh mesin scan.
·      Kemampuan berbaring datar di meja selama 20-40 menit.
·      Klien dengan sakit kepala berat, tekanan intracranial, perubahan tingkat kesadaran dan bayi atau anak kecil akan memerlukan analgesic sebelum pemeriksaan.
·      Alergi .Pada kasus dimana memerlukan gambaran vaskuler otak, maka digunakan iodium sebagai zat kontras secara IV. Tanyakan kepada klien apakah ada alergi terhadap iodium.
·      Fungsi ginjal secara adekuat. Zat kontras dikeluarkan melalui fungsi ginjal dalam waktu 24 jam.
Tujuan
CAT scaning dapat memberikan informasi secara akurat mengenai .
1)  Space occupying lesion (SOL) :  Tumor,Hematoma, abses
2)  Perubahan vascular : malformasi,peningkatan atau penurunan vaskularisasi dan infrak.
3)  Kontusio otak.
4)  Atropi otak.
5)  Hidrosefalus
6)  Peradangan/infeksi

Persiapan pasien
Pendidikan kesehatan.Menginformasikan kepada klien bahwa ia akan dibawa ke ruang Radiologi dengan menggunakan kereta dorong atau kursi roda, kemudian posisi klien akan di atur di ata meja X-ray. Scan akan dilakukan petugas Radiologi. Partisipasi klien yang diharapkan :
·         Tetap berbaring di atas meja datar.
·         Menahan nafas ketika diminta
·         Mengikuti petunjuk yang di instruksikan oleh dokter atau petigas kesehatan yang lain pada saat diberikan injeksi zat kontras.
      Tindakan CAT tidak menimbulkan rasa sakit,kecuali bila dilakukan penyuntikan zat kontras. Klien terlihat kemerahan dan hangat pada wajah dan terasa metalik pada lidah selamapenyuntikan zat kontras.Tidak ada tindakan spesifik setelah pemeriksaan karena zat kontras akan dikeluarkan melalui urin dalam waktu 24 jam dan tidak ada retensi radio aktif.
      Fisik.Kaji adanya riwayat alergi, fokusnya pada alergi terhadap iodium. Tanya tentang respon alergi terhadap : (1) garam iodium,(2)kerang-kerangan,(3)pemeriksaan diagnostic intravenous pielogram atau gallbladder X-ray films. Berikan analgesic sebagaimana instruksi bila ada nyeri pada tubuh atau sakit kepala. Tranguilizers minor dapat diberikan bila klien tampak cemas. Yakinkan bahwa rambut dalam keadaan bersih dan tidak menggunakan penjempit rambut dan wig.Rambut tidak dikepang.Jika klien memrlukan penghisapan sekresi atau monitoring elektronik selama pemeriksaan, perawat harus mendampingi klien.
Persetujuan . Pada saat dilakukan pemeriksaan diagnostic menggunakan zat kontras, maka perlu dibuat surat persetujuan tertulis.
Pemeriksaan
Klien berbaring di atas meja scan, kadang-kadang di fiksasi.Pergerakan secara elektronis melalui struktur sirkulasi rotasi scan.Ada beberapa tipe mesin yaitu : CAT, EMI,Delta dan ACTA.Klien harus berbaring selama pemeriksaan scanning.Pemeriksaan dilakukan selama 20-45 menit. Petugas yang memberikan pelayanan diruang scan harus menggunakan protektif timah.
Tindakan setelah pemeriksaan
Observasi untuk respon terhadap alergi  zat kontras. Berikan diphenhidramine(Benadryl) 50mg bila ada respon alergi. Berikan Back rubs untuk klien yang memperlihatkan nyeri pada punggung sebagai akibat immobilisasi. Anjurkan minum dan monitor pemasukkan dan pengeluaran untuk meyakinkan bahwa zat kontrasnya sudah keluar.
D.  BrainScan
Pemeriksaan Brainscan dilakukan pada klien yang diduga mengalami Space occupying lesion(SOL) atau disfungsi cerebrovasculer.
Adanya tanda-tanda lateralisasi sakit kepala yang menetap atau perubahan fungsi mental. Scan perlu injeksi isotop Radio aktif ( Technetium 99m), kemudian ditunggu dalam 15 menit sampai 2 jam, diikuti pemeriksaan scan itu sendiri. Uptakeisotop Radioaktif pada jaringan otak norma adalah sangat sedikit. Konsentrasi isotop Radioaktif pada otak menunjukkan ukuran dan lokasi lesi serebral.
Bagaimanapun tipe lesi ( apakah itu tumor, abses, kista, atau Hematoma)tidak dapat ditetapkan dengan Brainscan.

Persiapan klien
Pendidikan kesehatan.Informasikan kepada klien bahwa Brainscan akan dilakukan di Divisi Nuklir pada bagian Radiologi oleh petugas kedokteran nuklir. Untuk pemeriksaan scan ini klien mendapat suntikan inravena Radioaktif. 15 menit sampai denagn 2 jam kemudian akan di absorbs oleh otak. Kemudian klien di bawa ke Divisi nuklir denganmenggunakan kereta dorong dan selanjutnya klien diatur posisinya diatas meja X-ray denga kepala diletakkan dibawah alat scanner.Pemeriksaan ini dilakukan selam 30 – 60 menit.Jumlah zet Radioaktif yang disuntikkan adalah sangat sedikit. Zat tersebut dikeluarkan dala waktu 24 jam  melalui urin.
Pemeriksaan Braindscan tidak diperkenankan pada wanita yang sedang hamil untuk meindungi janin.
Fisik.Kadang-kadang beberapa obat tertentu (seperti pbat vasodilator, vasikontriksi, anti Hipertensi)tidak boleh diminum 24 jam sebelum scan obat-obatn ini akan mempengaruhi vaskularisasi otak sehingga akan mempengaruhi keakuratan hasil pemeriksaan.
Persetujuan. Untuk pemeriksaan Brainscan memerlukan persetujuan secara tertulis, karna klien mendapat suntikan zat radio aktif.

Pemeriksaan
Technetium 99 m diberikan secara intravena oleh petugas kedokteran nuklir di kaamar klien. Selanjutnya ditunggu selama periode waktu 15 menit sampai dengan 120 menit, kemudian klien dibawa ke Divisi nuklir Departemen Radiologi dengan menggunakan kereta dorong untuk pemeriksaan. Posisi klien diatur diatas meja X-ray dengan kepala dibawah alat scanner. Perekaman dilakukan dengan posisi anterior posterior(AP) dan Lateral. Daerah patologis akan tergambar baik sebagaimana dengan daerah uptake ubnormal.
Waktu yang diperlukan untuk scanning 1 sampai 2 jam.

Setelah pemeriksaan
Seluruh aktifitas yang dilakukan sebelumnya dapat dilanjutkan.
Berikan minum untuk membantu meningkatkan pengeluaran urin bersama isotop.

E.   Nuclear Magnetic Resonance
Nucear  Magnetic Resonance(NMR), saat ini di klinik sedang dicoba sebagai suatu alat diagnostic baru yang digunakan untuk menetapkan lokasi dan ukuran neoplasma kotak dan ketidaknormalan.
Antisipasi yang dilakukan NMR, menggunakan gambaran suara, dimana akan menggantikan CAT scan dalam beberapa tahun mendatang. Keuntungan utama dalam NMR adalah Noninvasifdan tidak memerlukan persiapan klien selain penjelasan tentang pemeriksaan. Alat ini dapat digunakan untuk mendiagnosa : (1)Hidrosefalus,(2)Ketidaknormalan letak,seperti Anurisma,Tumor dan Hematoma,(3) Lesikista dan (4)Pendarahan.


F.   Angiografi
Tujuan
Untuk melihat system ventrikel di otak dan medulla spinalis, dengan menggunakan zat kontras Radiopaqu-iodine yang disuntikkan langsung menuju arteri vertebra atau secara tidaklangsung melalui arteri brachial sub klavia atau femoral. Fluoroscope dan pemotretan Radiografi diambil setelah diinjeksi zat kontras. Pemeriksaan ini digunakan untuk mendiagnosa :
a.       Malformasi vascular serebra/vertebra, seperti anomali congenital atau akibat pembentukan tumor.
b.      Pergeseran pembuluh darah akibat herniasi atau edema pada parenkim system saraf atau SOL, seperti abses, tumor,hematoma.
c.       Sumbatan stenosis atau anoresma pembuluh darah system saraf pusat.
Persiapan kllien
Pendidikan kesehatan. Jelaskan pemeriksaan kepada klien  bahwa pemeriksaan angiografi dilakukan diunit Radiologi oleh seorang dokter ahli Neurologi atau dokter ahli bedah saraf. Klien diatur dalam posisi telentang. Pada anak-anak atau klien yang tidak kooperatif,maka engan dan tungkai dapat diikat. Anastesi local dan umum dapat diberikan, hal ini tergantung pada status klien. Untuk anastesi local dapat digunakan obatprokainhydrocloride(Novocain)yang disuntikkan pada daerah sekitar arteri yang akan dilakukan penusukkan. Untuk anastesi sistemik Phenobarbital 100mg dan atropine 0,4mg dapat diberikan secara intramuscular 30 menit sebelum pemeriksaan. Informasikan klien bahwa nyeri dan ketidaknyamanan akan dirasakan selama penyuntikan :
·         Adanya perasaan terbakar 6-10 detik disamping mata dan pada lidah, bibir, gusi dan gigi.
·         Pada dsaat penyuntikan menggunakan arteri karotis, beberapa klien memperlihatkan sulit bernafas karena lokasi penyuntikkan kateter berdekatan dengan trakea.
·         Partisipasi klien sangat dibutuhkan sekali, dimana klien diharapkan tetap berbaring, menghindari berbicara dan batuk. Klien harus mengikuti perintah dari ahli Neurologi pada saat menarik nafas dan tahan nafas selama kateter dimasukkan.
Fisik.Persiapan fisik yang perlu dilakukan terhadap klien adalah :
a.       Kaji tentang adanya alergi terhadap krokain dan iodium.
b.      Anjurkan minum 2jam sebelum pemeriksaan. Klien puasa selama 6-12 jam sebelum pemeriksaan.
c.       Lakukan dan catat hasil pemeriksaan sensitifitas trhadap iodium dan krokain 24 jam sebelum pemeriksaan bila diperkirakan adanya alergi.
d.      Siapkan kulit : cukur sekitar lokasi penyuntikan pada leher, klavikula dan brakial. Persiapan ini kadang-kadang dilakukan di unit radiologi sebelum pemeriksaan.
e.       Gigi palsu, lensa kontak dan rambut palsu dilepas.
f.        Kaji dan catat neurologi.
g.       Berikan dan catat obat-obatan yang diberikan sebelum pemeriksaan sesuai denagan intruksi.
Persetujuan.Karena Angiografi merupakan pemeriksaan infasif yang mana mempunyai resiko, untuk itu diperlukan persetujuan secara tertulis.
Dokter ahli neurologi menjelaskan tentang pemeriksaan dan resiko yang dapat terjadi,meliputi : reaksi alergi, stroke, pembentukan hematoma dan emboli jantung atau paru.
Pemeriksaan
Klien dalam keadaan tidur diletakkan dalam posisi terlentang pada meja X-ray, lengan dan tungkai dapat dilipat.Obat anastesi dapat diberikan, daerah kulit dipersiapkandan selanjutnya dilakukan penyuntikan zat kontras, pembuluh darah selebral dapat dilihat dengan menggunakan fluoroscope dan kemudian dilakukan pengambilan gambar.Secara umum pemeriksaan ini dilakukan selama 30-40 menit.Karena pemeriksaan ini cukup berbahaya, maak perlu dipersiapkan obat anafilaktik syok dan alat-alat resusitasi harus berada di dekat klien.Setelah penyuntikan jarum diangkat kemudian dilakukan penekanan secara langsung pada lokasi penusukan selama 5-10 menit untuk mencegah hematoma.Data pengkajian neurologi perlu dicatat Balutan penkan perlu dipasang pada lokasi penususkan sebelum klien dibawa ke ruang perawatan.Bila pemeriksaan menggunakan arteri brakial atau femoral, maka lengan atau kaki harus di immobilisasi.Denyut nadi, warna dan temperature pada bagian distal perlu dikaji dan di catat setiap jam.
Tindakan setelah pemeriksaan
Tindakan keperawatan yang perlu dilakukan setelah pemeriksaan adalah :
a.       Kaji dan catat data pengkajian neurologi pada flow sheet setiap 15-30 menit sampai tnda-tanda vital stabil.
b.      Tirah baring dengan bagian kepala ditinggikan 15-30 derajat selama 24 jam bila pemeriksaan menggunakan arteri subklavia, brakial,atau arteri karotis. Posisi tidur datar dilakukan bila menggunakan arteri femoral.
c.       Pemeriksaan balutan pada lokasi penusukkan setiap jam. Laporkan bila terjadi perdarahan berlebihan (lebih dari 1 cm) pada dokter ahli neurologi.
d.      Lakukan immobilisasi selama 6-8 jam : (1) gunakan ice collar untuk bekas penusukkan pada daerah karotis/vertebra,(2) gunakan lateral trochnater rolls bila penusukkan pada daerah brakial/femoral.
e.       Kaji dan catat denyut nadi, warna dan temperature distal untuk penusukkan pada arteri femoral/brakial.
f.        Observasi tanda-tanda dan gejala komplikasi, meliputi : respon alergi, edema, komplikasi vaskuler, seperti stroke, emboli paru, emboli jantung.

G.  Digital Subtraction Angiography
Digital Subtraction Angiography (DSA) adalah pemeriksaan radiologi dengan menggunakan computer. Pemeriksaan ini memerlukan injeksi zat kontras intravena melalui kateterisasi arteri terhadap sirkulasi arteri yang akan diperiuksa dengan menggunakan teknologi computer. DSA memberikan alternative pilihan yang lain dari pemeriksaan Angiography untuk klien yang memiliki resiko tinggi.
Tujuan
Pemeriksaan DSA ini digunakan untuk :
a.          Mengkaji penyakit arteri serebral.
b.         Menteksi klien yang memiliki resiko anuresma, emboli dan stenosis.
c.          Menetapkan efektifitas tindakan bedah pada saraf.
Persiapan klien
Pendidikan kesehatan.Informasikan klien bahwa dia aakn dibawa ke unit Radiologi dan selanjutnya klien dianjurkan untuk berbaring telentang.
Anjurkan klien agar tetap berbaring. Penusukkan intravena akan dilakukan pada salah satu lengan dekat siku setelah dilakukan tindakan anastesi dengan prokain/lidokain. Beritahu klien bahwa akan merasa seperti dicubit pada saat kateter dimasukkan melalui vena dan larutan IV diberikan. Setelah zat kontras disuntikkan, gambaran akan terlihat pada layar. Pemeriksaan ini dilakukan selama 20-40 menit.
Fisik : persiapan fisik meliputi:
a.      Kaji klien tentang adanya riwayat alergi terhadap iodium atau lidokain. Informasikan dokter jika klien memilki riwayat alergi terhadap zat kontras.
b.      Aktifitas dan cairan tidak perlu dibatasi.
c.       Klien dianjurkan untuk tidak makan 2 jam setelah pemeriksaan.
Persetujuan .Karena dilakukan injeksi IV,maka beberapa Rumah Sakit memerlukan adanya persetujusan tertulis.
Pemeriksaan .
a.       Daerah sephalik/brakial perlu dipersiapkan dengan menggunakan antiseptic dan perlu ditutup daerah yang steril tersebut.
b.      Lidocain disuntikkan melalui subkutan pada jaringan sekitar vena.
      Tunggu sekitar 5-8 menit untuk meyakinkan bahwa daerah tersebut sudah mengalami mati rasa.
c.       Dokter melakukan insisi pada kulit di atas vena dan memasukkan Angiokateter No.16 kemudian dengan menggunakan fluoroscope dapat membantu mengoreksi letak dari kateter. Posisi kateter diletkkan antara vena cava superior dan atrium kanan.
d.      Kemudian diambil digabung sampai 40ml iodium/zat kontras disuntikkan pada interval yang teratur. Antara injeksi intravena larutan infuse dipergunakan untuk mempertahankan patensi kateter.
e.       Gambaran vaskularisasi serebral akan terlihat pada layar.
f.        Setelah selesai pemeriksaan, maka Angiokateter diangkat dan dilakukan penekanan pada lokasi penusukkan.


Tindakan setelah pemeriksaan
a.       Observasi lokasi penusukkan untuk kemungkinan adanya perdarahan atau peradangan.
b.      Kaji dan dokumentasi denyut nadi dan waktu pengisisan kapiler distal pada lokasi penusukkan setiap jam untuk selama  4 jam.
c.       Observasi untuk adanya respon alergi terhadap iodium seperti nausea, muntah dan sakit kepala.

H.    Fungsi Lumbal
Fungsi lumbal adalah memasukkan jarum lumbal secara aseptic menuju ke ruang subaraknoid antara lumbal III dan IV atau lumbal IV dan V.
Tujuan
Fungsi lumbal dapat dilakukan untuk mendiagnostik atau tujuan terapi.
Secara diagnostic fungsi lumbal dapat dilakukan untuk :
a.       Mengukur tekanan cairan serebrospinal
b.      Mengumpulkan cairan serebrospinal untuk diperiksa dalam rangka untuk menegakkan diagnosis :
·         Infeksi/peradangan ,seperti meningitis,sifilis, rupturabses dan multipelsklerosis
·         Perdarahan,misalnya pada perdarahan subaraknoid atau intraserebral
·         Neoplasma
c.       Menetapkan adanya bendungan aliran CSF (Queckenstedts test).
d.      Memasukkan zat kontras untuk pemeriksaan radiography. Secara terapi, fungsi lumala dapat digunakan untuk pemberian injeksi intratekalobat-obatan antibiotic / anti peradangan dan anestesispinal.
KontraIndikasi.Klien dengan tekanan intracranial yang tinggi sangat beresiko mengalami herniasi batang otak selama fungsi lumbal. Jika untuk menetapkan tekanan intracranial hanya melalui fungsi lumbal, maka alternative invasive yang dapat dianjurkan untuk mengukur tekanan intracranial dengan add fibrotic sensor. Kontraindikasi yang lain adalah jika ada infeksi pada kulit atau sekitar lumbal karena penusukkan tersebut akan dapat memasukkan kuman menuju ruang subarakanoid.

Persiapan klien
Pendidikan kesehatan.Informasikan klien bahwa fungsi lumbal akan dilakukan oleh ahli neurologi di kamar klien atau kamar pemeriksaan.
Jelaskan tentang gambaran medulla spinalis dan vertebra serta jelaskan lokasi akhir medulla spinalis dan lakukan penusukkan. Jelaskan posisi fetal yang maan akan dilakukan oleh klien. Jelaskan tindakan setelah pemeriksaan dan rasionalisasinya.Jawab pertanyaan klien tentang perubahan-perubahan yang mungkin dapat terjadi, seperti adanya sakit kepala.Nyeri tungkai dan menjelaskan tentang tindakan pencegahan yang digunakan.
Fisik.Persiapan fisik yang dilakukan terhadap klien sebelum pemeriksaan meliputi :
a.       Memastikan/mengetahui obat-obatan yang selama ini digunakan (catatan : untuk klien yang menggunakan obat-obatan antikoagulen sangat beresiko untuk perdarahan setelah pemeriksaan).
b.      Siapkan set steril untuk fungsi lumbal, meliputi : 2 buah spuit, obat anestesi local dan sarung tangan steril.
c.       Anjurkan kepada klien untuk berkemih.
d.      Atur posissi klien dalam posisi lateral recumbent fetal, didekat bagian tepi tempat tidur,bantu klien untuk memperkenalkan posisi tersebut.
e.       Siapkan daerah kulit lumbal dengan membersihkan daerah tersebut dengan larutan antiseptic.
f.        Bantu selama tindakan tersebut dan catatat penampilan secara umum dan baca manometer.
persetujuan.persetujuan secara tertulis dilakukan sebelum pemeriksaan dilakukuan.

Pemeriksaan

Fungsi lumbal dilakukan oleh dokter.setelah dilakukan persiapan terhadap kulit,anastesi local dan aseptic,selanjutnya dokter akan menusukan jarum lumbal no 18 menuju ruang subaraknoid pada L3-L4 atau L4-L5.pada saat penusukan klien diharapkan dalam posisi rileks.
Mandrin pada jarum diangkat dan selanjutnya dihubungkan ke manometer untuk mengetahui (normal 60-80 mm air).Perawat perlu mencatat tekanan pada saat pembukaan dan penutupan.Tiga sampai 5 sempel cairan serebrospinal (masing-masing 3-5 ml) yang diambil dan ditampung pada tabung. Perawat memberi label pada tabung tersebut.
Penampilan cairan serebrospinal dicatat,meliputi adanya darah dan warna. Pada saat cairan serebrospinal ada darah, maka harus dibedakan antara perdarahan pada system saraf pusat dan trauma akibat penusukkan jarum lumbal. Setelah sample serebrospinal dikumpulkan, kemudian jarum diangkat dan dilakukan penekanan pada lokasi penusukkan.
Tindakan setelah pemeriksaan
a.       Klien dibaringkan dalam posisi datar 6-24 jam, tergantung pada adanya sakit kepala. Kepala ditinggikan 15 derajat pada saat makan.
b.      Data-data pengkajian neurologi dikumpulkan dan di catat setiap jam sampai stabil.
c.       Memberikan dan menganjurkan minum yang disuplai klien untuk 48 jam. Pemasukkan cairan lebih dari 3.000 ml/hari akan membantun dalam memproduksi cairan serebrospinal.
d.      Memberikan analgesic peroral bila sakit kepala.
e.       Mempertahankan pencatatan intake dan output dalam waktu 24 jam.
f.        Mengkaji distensi bladder. Kadang-kadang klien mengalami kesulitan untuk berkemih 24 jam setelah fungsi lumbal.
g.       Manganjurkan pergerakkan sendi dan latihan kaki untuk mengurangi spasme.
h.      Observasi tanda-tanda meningeal akibat penusukkan yang tidak steril, seperti : kaku kuduk, demam,photophobia.

I.    Myelografi
Tujuan
Myelografi dilakukan untuk mendeteksi ketidaknormalan medulla spinalis atau vertebra atau untuk mendapat gambaran lokasi obstruksi aliran serebrospinal pada ruang subaraknoid vertebra.
Pada umumnya penyebab obstruksi adalah herniasi diskus intervertebralis. Penyebab lain obstruksi adalah rupture degenerasi dari diskus, neoplasma atau abses.
Persiapan klien
Pendidikan kesehatan.Myelografi dilakukan diunit radiologi oleh dokter ahli neurologi atau ahli bedah ortopedik. Obat-obatan (phnobarbital atau meperidine atau atropine) diberikan dengan injeksi, 1 jam sebelum pemeriksaan untuk meningkatkan rekasasi dan menyebabkan mengantuk, makanan dan cairan tidak boleh diberikan 4 jam sebelum pemeriksaan. Klien dibawa ke unti radiologi dengan menggunakan kereta dorong dan dibaringkan pada posissi fetal pada meja X-ray.Klien juga mendapat penjelasan tentang tindakan setelah pemeriksaan dan rasionalnya.
Fisik :
a.       Tergantung pada zat kontras yang digunakan, kaji adanya riwayat alergi,bila menggunakan metrijamide, maka perlu dikaji adanya riwayat epilepsy, alcoholism cronic atau penyakit paru. Bila menggunakan lodophenylundyelic acid, maka perlu dikaji adanya alergi terhadap Iodium.
b.      Puasakan makanan dan minuman 4-6 jam sebelum myelogram.
c.       Anjurkan klien untuk berkemih. Berikan obat-obatn prenmielogram yang dianjurkan.
Persetujuan.Persetujuan tertulis diperlukan. Dokter harus mejelaskan tentang yang akan dilakukan dan adanya sakit kepala.
Pemeriksaan
Penusukkan dilakukan pada daerah lumbal(kadanng-kadang serfikal) dan cairan serebrospinal diambil 10-15ml. kemudian zat kontras disuntikkan pada ruang subaraknoid vertebra. Zat kontras bercampur dengan cairan serebrospinal dan mengalir sepanjang saluran vertebra.Gambaran obstruksi akan terlihat melalui fluoroscope dan selanjutnya dilakukan pengambilan gambar dengan menggunakan X-ray.
Tindakan setelah pemeriksaan
a.       Kumpulkan dan catat data pengkajian neurologi setiap 2-4 jam selama 24 jam.
b.      Pada saat menggunakan lodophenylundecylic acid,klien perlu berbaring datar selama 6-24 jam untuk mencegah sakit kepala setelah mielography pada saat menggunakan metrijamide, maka setelah pemeriksaan hindari posisi tidur datar karena dapat menyebabkan terjadinya kejang.
c.       Berikan obat-obatan analgesic untuk sakit kepala.
d.      Berikan dan anjurkan kepada klien minum diatas 2500 ml.
e.       Pertahankan secara akurat pencatatan dan pemasukkan dan pengeluaran dalam periode 24-48 jam.
f.        Kaji adanya distensi bladder, potensial untuk retensi urin dalam keadaan immobilisasi.
g.       Kaji adanya efek samping dan laporkan segera ke dokter bila terjadi.
h.      Beri lingkungan yang nyaman. Anjurkan pada klien pria untuk berdiri dengan bantuan pada saat berkemih.

J.     Pneumoencefalografi
Pneumoencefalografi adalah pemeriksaan, dimana dilakukan injeksi udara menuju ke ruang subaraknoid.Pemeriksaan ini sudah lama dilakukan dansaat ini diganti dengan pemeriksaan diagnostic lain yang lebih efektif.
Untuk dewasa dig anti dengan pemeriksaan scanning, sedangkan untuk anak-anak langsung dilakukan pemeriksaan ventri-culography. Pemeriksaan ini tidak dapat dilakukan pada klien dengan peningkatan tekanan intracranial.
Tujuan
Pneumoencefalografi digunakan untuk mendiagnosa :
a.       Hidrosefalus
b.      Hypertropi ventrikel dan neoplasma.
c.       Anomaly Congenital
d.      Tumor pituitary dan fossa posterior
Persiapan klien
Pendidikan kesehatan.Informasikan tentang pemberian sedative sebelum pemeriksaan .makanan dan cairan dihentikan 6-8 jam sebelum pemeriksaan. Jelaskan tentang posisi dalam pemeriksaan(telentang,tengkurep, kepala lebih rendah) yang digunakan. Diskusikan tentang kemungkinan merasa adanya gelembung-gelembung pada otak pada saat dilakukan injeksi udara melalui fungsi lumbal, atau siterna.


Informasikan kepada klien/keluarga adanya sakit kepala dan metode yang digunakan untuk mengatasi.
Fisik
a.       Puasakan(makan/minum) 6-8 jam sebelum pemeriksaan untuk mencegah muntah.
b.      Lakukan pemeriksaan neurologi dan catat dalam dokumen.
c.       Lepaskan gigi palsu dan rambut palsu
d.      Berikan klien baju rumah sakit
e.       Berikan sedative / hipnotik, seperti Phenobarbital 100 mg dan atropine o,4mg.
Persetujuan.Surat persetujuan dibuat setelah dokter ahli neurologi menjelaskan tentang pemeriksaan 65diagnostik dan keluhan setelah pemeriksaan diagnostic.
Pemeriksaan
Pneumoencefalografi dilakukan di unit radiologi oleh dokter ahli neurologi.Klien didudukkan di kursi yang berdekata1n dengan mesin X-ray.
Tindakan setelah pemeriksaan
a.       Atur posisi tidur klien dalam posisi datar selama 24-48 jam
b.      Monitor dan catat status neurologi setiap demam diatas 38,5oc , dimana merupakan hal yang tidak umum untuk 24 – 48 jam setelah pemeriksaan.
c.       Berikan analgesic bila sakit kepala
d.      Berikan dan anjurkan minum 3.000ml/24 jam salaam 2 hari
e.       Pertahankan pencatatan pemasukkan dan pengeluaran.
f.        Berikan antiemetikuntuk mengalami mual/muntah
g.       Gunakan ice caap untuk mengurangi sakit kepala.
h.      Kurangi rangsangan dan dari lingkungan(cahaya dan suara)
i.         Pasang penghalang tempat tidur untuk kemungkinan adanya kejang.

K.  Elektroencefalografi
Elektroencefalografi (EEG) adalah rekaman grafim aktifitas listrik(gelombang otak) di daerah bilateral kortikal dari otak. Partisipasi klien sangat diperlukan agar mendapatkan hasil yang akurat.
Tujuan
EEG dilakukan untuk :
a.       Mendiagnosa efilepsi
b.      Membedakan organ yang fungsional dan disfungsional.
c.       Mengidentifikasi lokasi infrak vaskuler SOL( tumor, hematoma,abses)
d.      Mendiagnosa mental retardasi atau overdosis
e.       Menetapkan kemeatian otak
Persiapan klien
Pendidikan kesehatan.Informasikan kepada klien bahwa EEG dilakukan di ruang yang tenang pada laboratorium diagnostic oleh teknisi EEG.Rambut tidak digunting atau dikerok.Rambut hanya dikeramas. Jelaskan ada 16 – 24 elektroda yang akan ditempelkan pada kulit kepala dengan menggunakan pasta. Elektroda-elektroda dihubungkan ke mesin EEG. Yakinkan kepada klien bahwa EEG ini akan dilakukan subkutan selama 45-60 menit dan tidak menimbulkan rasa sakit, serta tidak berbahaya seperti elektrikshock.Anjurkan klien untuk mengungkapkan rasa takut dan rasa cemasnya dan berikan penjelasan yang tepat untuk mengurangi cemasnya dan berikan penjelasan yang tepat untuk mengurangi perasaan tersebut, karena dapat mempengaruhi keakuratan perekaman EEG. Jelaskan kepada klien bagian-bagian pemeriksaan yang meliputi :
a.       Duduk atau berbaring dengan rileks
b.      Ikuti intruksi dari teknisis rileks :
·            Hiperventilasi 3-5 menit
·            Pertahankan agar tetap tutup mata
·            Tidur, jika klen tidak bias tidur berikan sedative hipnotik.

Jelaskan kepada klien bahwa dokter akan menjelaskan hasil rekaman pada beberapa hari kemudian.
Fisik :
a.       Obat-obatan yang akan menekan susunan saraf pusat(meliputi : alcohol,ranguilizers)dihentikan 24 jam sebelum pemeriksaan, seab akan merubah aktifitas listrik otak.
b.      Minuman yang mengandung caffeine, seperti : coca-cola dan the dihentikan 24 jam sebelum pemeriksaan EEG.
c.       Rambut harus bersih dan bebas dari spray, miyak,lotion dan tidak memakai rambut palsu.
d.      Biasanya klien makan pagi sebelum pemeriksaan, sebab hipokglekimia dapat menyebabkan tidak normalnya potensial listrik.

















Penatalaksanaan  Stroke

1.      Non Farmakologi (non pembedahan)
a.       Terapi antikoagulan. Kontraindikasi pemberian terapi antikoagulan pada klien dengan riwayar ulkus , uremia dan kegagalan hepar . sodium heparin di berikan secara subkutan atau melalui IV drip.
b.      Penytonin (dilantin) dapat di gunakan untuk mencegah kejang .
c.       Enteris-coated, misalnya aspirin dapat digunakan untk lebih dulu untuk menghancurkan trombotik dan embolik
d.      Epsilon-aminocaproic acid (amicar) dapat digunakan untuk stabilkan bekuan di atas anurisma yang ruptur.
e.       Calcium channel blocker (nimodipine) dapat di berikan untuk mengatasi vasospasme pembuluh darah.

2.      Farmakologi  (pembedahan)
a.       Karotid endarterektomi untuk mengangkat plaque atherosclerosis.
b.      Superior temporal arteri – middle serebral arteri anastomisis dengan melalui daerah yang tersumbat dan menetapkan kembali  aliran darah pada daerah yang di pengaruhi.

Jika pasien tidak mengalami stroke, sebaliknya pasien mengalami TIA , maka dapat diberikan obat antiplatelet. Obat- obat termasuk Parasantine
ü  Boehringer Ingelheim,
ü  Riggefield , CT
ü  Anturane (ciba Pharmaceutical Co Summit NJ) dan
ü  aspirin.
Obat-obat mengurangi perlekatan platelet dan diberikan dengan harapan dapat mencegah peristiwa trombolitik atau embolitik dimasa mendatang. Obat-obatan antiplatelet merupakan kontraindikasi dalam keadaan adanya stroke hemoragi seperti halnya pada heparin.
Bloker saluran kalsium seperti nimodipin dapat digunakan untuk mengobati vasospasme serebral. Obat-obatan ini merileksasikan otot polos pembuluh darah. Vasospasme merupakan peristiwa yang paling umum setelah terjadnya rupture aneurisme serebral. Trental (pentoksifiline Hoechst Roussel Pharmaseuticals Somerville NJ) dapat digunakan untuk meningkatkan aliran darah kapilar mikrosirkulasi , sehingga meningkatkan perfusi dan oksigenasi ke jaringan otak yang mengalami iskemi.
Penatalaksanaan Stroke
Untuk mengobati keadaan akut perlu diperhatikan faktor-faktor kritis sebagai berikut 
1. Berusaha menstabilkan tanda-tanda vital dengan :
a. Mempertahankan saluran nafas yang paten yaitu lakukan pengisapan lendiryang sering, oksigenasi, kalau perlu lakukan trakeostomi, membantu pernafasan.
b. Mengontrol tekanan darah berdasarkan kondisi pasien, termasuk usaha memperbaiki hipotensi dan hipertensi.
3. Berusaha menemukan dan memperbaiki aritmia jantung.
4. Merawat kandung kemih, sedapat mungkin jangan memakai kateter.
5. Menempatkan pasien dalam posisi yang tepat, harus dilakukan secepat mungkin pasien harus dirubah posisi tiap 2 jam dan dilakukan latihan-latihan gerak pasif.








Komplikasi Stroke
Komplikasi yang umum terjadi adalah bengkak otak (edema) yang terjadi pada 24 jam sampai 48 jam pertama setelah stroke. Berbagai komplikasi lain yang dapat terjadi adalah sebagai berikut:

·         Kejang
                        Kejang pada fase awal lebih sering terjadi pada stroke perdarahan. Kejadian kejang umumnya memperberat defisit neurologik

·         Nyeri kepala
walaupun hebat, umumnya tidak menetap. Penatalaksanaan membutuhkan analgetik dan kadang antiemetik

·         Hiccup
penyebabnya adalah kontraksi otot-otot diafragma. Sering terjadi pada stroke batang otak, bila menetap cari penyebab lain seperti uremia dan iritasi diafragma.

ü  Selain itu harus diwaspadai adanya:
- Transformasi hemoragik dari infark
- Hidrosefalus obstruktif

·         Peninggian tekanan darah.
Sering terjadi pada awal kejadian dan turun beberapa hari kemudian.

·         Demam dan infeksi.
            Demam berhubungan dengan prognosa yang tidak baik. Bila ada infeksi umumnya adalah infeksi paru dan traktus urinarius.

·         Emboli pulmonal.
Sering bersifat letal namun dapat tanpa gejala. Selain itu, pasien menderita juga trombosis vena dalam (DVT).

·         Abnormalitas jantung.
Disfungsi jantung dapat menjadi penyebab, timbul bersama atau akibat stroke.  Sepertiga sampai setengah penderita stroke menderita komplikasi gangguan ritme jantung.

·         Gangguan fungsi menelan, aspirasi dan pneumonia.
Dengan fluoroskopi ditemukan 64% penderita stroke menderita gangguan fungsi menelan. Penyebab terjadi pneumonia kemungkinan tumpang tindih dengan keadaan lain seperti imobilitas, hipersekresi dll.

·         Kelainan metabolik dan nutrisi.
Keadaan undernutrisi yang berlarut-larut terutama terjadi pada pasien umur lanjut. Keadaan malnutrisi dapat menjadi penyebab menurunnya fungsi neurologis, disfungsi kardiak dan gastrointestinal dan abnormalitas metabolisme tulang.

·         Infeksi traktus urinarius dan inkontinensia.
Akibat pemasangan kateter dauer, atau gangguan fungsi kandung kencing atau sfingter uretra eksternum akibat stroke.

·         Perdarahan gastrointestinal.
Umumnya terjadi pada 3% kasus stroke. Dapat merupakan komplikasi pemberian kortikosteroid pada pasien stroke. Dianjurkan untuk memberikan antagonis H2 pada pasien stroke ini.

·         Dehidrasi.
Penyebabnya dapat gangguan menelan, imobilitas, gangguan komunikasi

·         Hiponatremi.
Mungkin karena kehilangan garam yang berlebihan.

·         Hiperglikemia.
Pada 50% penderita tidak berhubungan dengan adanya diabetes melitus sebelumnya. Umumnya berhubungan dengan prognosa yang tidak baik.

·         Hipoglikemia.
Dapat karena kurangnya intake makanan dan obat-obatan.



















Pencegahan dan Pengobatan pada Stroke


1. Pencegahan Stroke
                  Tujuan pencegahan primordial adalah mencegah timbulnya faktor risiko bagi individu yang belum mempunyai faktro risiko. Pencegahan primordial dapat dilakukan dengan cara melakukan promosi kesehatan, seperti berkampanye tentang bahaya rokok terhadap stroke dengan membuat selebaran atau poster dengan membuat selebaran atau poster yang dapat menarik perhatian masyarakat. 
Selain itu, promosi kesehatan lain yang dapat dilakukan adalah program pendidikan kesehatan masyarakat, dengan memberikan informasi tentang penyakit stroke hemoragik melalui ceramah, media cetak, media elektronik.

2. Pencegahan Primer
                  Tujuan primer adalah mengurangi timbulnya factor risiko stroke bagi individu yang mempunyai factor risiko tetapi belum menderita stroke denfan cara melaksanakan gaya hidup sehat bebas stroke, antara lain :

a. Menghindari merokok, stress mental, alcohol , kegemukan, konsumsi garam berlebihan, obat-obatan golongan amfetamin, kpkain, dan sejenisnya.
b. Mengurangi kolesterol, lemak dalam makanan seperti jeroan, daging berlemak, goring-gorengan.
c. Mengatur pola makan yang sehat seperti kacang-kacangan, susu dan kalsium, ikan,serat, vitamin yang diperoleh dari makanan dan bukan suplemen( vit.C,E,B6,,B12 dan beta karoten), the hijau dan the hitam serta buah-buahan dan sayur-sayuran.
d. Mengendalikan factor risiko stroke, seperti hipertensi, diabetes mellitus,penyakit jantung dan lain-lain.
e. Menganjurkan konsumsi gizi yang seimbang dan berolahraga secara teratur, minimal jalan kaki selama 30 menit, cukup istirahat dan check up kesehatan secara teratur minimal 1 kali setahun bagi yang berumur 35 tahun dan 2 kali setahun bagi yang berumur di atas 60 tahun.

3. Pencegahan Sekunder

Untuk pencegahan sekunder, bagi mereka yang pernah mendapat stroke, dianjurkan :
a. Hipertensi : diet, obat antihipertensi yang sesuai
b. Diabetes milletus : diet, obat hipoglikemik oral/insulin
c. Penyakit jantung aritmik nonvalvular (antikoagulan oral)
d. Dislipidemia : diet rendah lemak dan obat antidislipidemia
e. Berhenti merokok
f. Hindari alcohol, kegemukan dan kurang gerak
g. Polisitemia
h. Asetosal ( asam asetil salisilat) digunakan sebagai obat antiagregasi trombosit pilihan pertama. Tiklopidin diberikan pada penderita yang tidak tahan asetosal.
i. Antikoagulan oral diberikan pada penderita dengan factor risiko penyakit jantung dan kondisi koagulopati yang lain
j. Tindakan bedah lainnya

4. Pencegahan Tertier
Meliputi program rehabilitasi penderita stroke yang diberikan setelah terjadi stroke. Rehabilitasi meningkatkan kembali kemampuan fisik dan mental dengan berbagai cara. Tujuan program rehabilitasi adalah memulihkan independensi atau mengurangi ketergantungan sebanyak mungkin. Cakupan program rehabilitasi stroke dan jumlah spesialis yang terlibat tergantung pada dampak pasien dan orang yang merawat.

Pengobatan Konservatif
1. Vasodilator meningkatkan aliran darah serebral ( ADS ) secara percobaan, tetapi maknanya :pada tubuh manusia belum dapat dibuktikan.
2. Dapat diberikan histamin, aminophilin, asetazolamid, papaverin intra arterial.
3. Anti agregasi thrombosis seperti aspirin digunakan untuk menghambat reaksi pelepasan agregasi thrombosis yang terjadi sesudah ulserasi alteroma.

Pengobatan Pembedahan
Tujuan utama adalah memperbaiki aliran darah serebral :
1. Endosterektomi karotis membentuk kembali arteri karotis , yaitu dengan membuka arteri karotis di leher.
2. Revaskularisasi terutama merupakan tindakan pembedahan dan manfaatnya paling dirasakan oleh pasien TIA.
3. Evaluasi bekuan darah dilakukan pada stroke akut
4. Ugasi arteri karotis komunis di leher khususnya pada aneurisma.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar